Senin, 21 Juli 2014

BAB 1

I
ndahnya pasir putih, langit yang oren (semurat langit senja), deru ombak yang membiru, dan ramainya warna di  pantai Kuta membuat sore hari yang berwarna di tengah kesendirian Rafa yang sedang duduk melamun sambil mendengarkan lagu dengan earphone yang terpasang di kupingnya.

“Hai, kok lu sendirian aja raf?” sapa Nava.
Rafa hanya menengok sambil tersenyum kepada Nava dan melanjutkan lamunannya. Kemudian Nava duduk di sebelah Rafa dan ikut menikmati indahnya sore itu.
“va..” ucap Rafa dengan pelan.
“kenapa raf?” Nava menjawab dengan senyum di bibirnya.
“dengerin lagu ini deh” pinta Rafa sambil memberi earphonenya.
Sesaat setelah Nava memasang earphonye Rafa langsung menyetel satu lagu yang ada di Ipodnya. Lagu yang tiap bait liriknya mewakili tiap serpih perasaannya kepada Nava.
Nava hanya memejamkan matanya setelah lagu itu diputar begitu pun Rafa ikut memejamkan mata. Kemudian Rafa teringat kenangan di mana pertama kalinya ia mengenal Nava.
.......
“... Dengan ini saya nyatakan acara masa orientasi siswa tahun 2006 resmi dibuka ...” kata-kata pembukaan yang diucapkan oleh bapak kepala sekolah di hari pertama Rafa masuk smp yang tidak akan pernah Rafa lupakan.
Setelah upacara selesai acara diambil alih oleh kakak-kakak panitia mos. Mereka langsung membagi para siswa baru ke dalam beberapa kelompok. Setelah itu mereka manggil siswa baru yang telat mengikuti upacara untuk maju kedapan. Mereka semua ada lima belas orang dan Rafa juga termasuk ke dalam lima belas orang tersebut. Satu persatu disuruh memperkenalkan diri dan menyebutkan kelompoknya. Tiba lah saatnya buat Rafa memperkenalkan diri karena banyak temen-temen sd Rafa yang masuk smp di sini juga jadi Rafa diledek oleh teman-temannya dan dengan refleks Rafa mengacungkan jari manis ke teman-temannya. Rafa berfikir tidak ada kakak panitia mos yang sedang memperhatikan dia dan ini hanya sebatas candaan saja untuk mereka. Tak disangka tiba-tiba ada seorang kakak panitia yang melihat Rafa dan langsung meneriakinya dengan kencang
“woiii, ngapain itu ngacungin jari tengah? jagoan lu?” bentak kakak mos yang memakai kaca mata dengan rambut klimis dan sedikit bulu hidung yang keluar dari sarangnya, sudah gitu muncrat lagi.
“Apaan sih kak, saya ga ngacungin jari tengah cuma gini doang nih”bantah Rafa sambil mengacungkan jari manisnya dalam keadaan yang masih terkejut dan dilakukannya secara spontan.
Rafa membaca nama kakak panitia tersebut lewat bet nama yang ada di dada, Fredio B.S. Fredio langsung terdiam dan tak bisa berbicapa apa apa lagi. Dia merasa telah dijatuhkan harga dirinya di depan banyak siswa baru. Di saat yang bersamaan hampir semua siswa yang melihat kejadian itu tertawa. “Haduh masalah lagi ini” keluh Rafa di dalam hati. Tak berapa lama ada dua kakak mos yang datang menghampiri Rafa. Tanpa basa basi mereka menyuruh Rafa kembali ke kelompoknya.
Setelah masuk ke barisan kelompoknya ternyata ada enam orang teman sd dan tiga orang teman les Rafa. Berarti Rafa kenal hampir setengah kelompok ini. Jadi tak sulit untuk Rafa beradaptasi dengan sebelas teman kelompok yang belum Rafa kenal.
Rafa langsung duduk di baris paling belakang karena apa? Ya karena Rafa telat jadi Rafa tak bisa milih tempat. Setelah Rafa duduk Rafa langsung mengajak kenalan cewekk yang ada di sebelah kanan Rafa.
“eh, nama lo siapa?” sambil Rafa colek dia.
“gue Nava Putri. Panggil aja Nava. Kalo lu?” jawab cewek itu dengan lembut.
“gua Rafa Darmawan, panggil aja sayang” Rafa menjawab sekaligus menggoda Nava.
“ih apaan banget si lo. Hahaha” kata Nava sambil tertawa pelan.
“ya gapapa lah kita kan satu kelompok ini”
Nava hanya tertawa kecil setelah itu dia kembali melanjutkan lagi perhatiannya kepada instruksi kakak mos di depan.
Dan setelah hampir satu setengah jam mereka ada di lapangan sekolah akhirnya kakak-kakak mos memerintahkan mereka semua untuk masuk ke aula.
“Kelompok satu jalan duluan” kata seorang kakak mos yang megang mic di depan. Mungkin dia korlapnya.
Satu persatu kelompok dipanggil dan diperintahkan untuk masuk ke aula sekolah sampai pada akhirnya kelompok disebeleh Rafa dipanggil.
“kelompok enam berdiri, siap siap buat masuk ke aula. Baris yang rapih ya” kata kakak korlap dari depan.
Nava segera berdiri kemudian Rafa menyusul Nava untuk berdiri dan betapa terkejutnya Rafa ketika hanya dia seorang yang berdiri dari barisannya dan kenyataan bahwa dia tidak satu kelompok dengan Nava. Nava hanya melirik sambil tersenyum  kepada Rafa seolah olah dia berkata “maaf kita ga satu kelompok”.
“hei kamu ngapain berdiri? Kamu kelompok berapa? Sudah dipersilahkan untuk berdiri belum?” tanya seorang kakak panitia yang tidak lain adalah fredio dengan nada yang tinggi sambil mengacungkan jarinya ke arah Rafa. Rafa langsung duduk kembali dengan menundukan wajahnya ke bawah dia merasa malu dan merasa dipermainkan oleh Nava.
“Sial ternyata gua ga sekolompok sama Nava. Malu lagi deh gua ini, jangan sampe ada yang ngomel lagi deh” gumam Rafa dalam hati.
“pfffftttttt...ppfffftttt... wakakakakakakak....” beberapa temen Rafa langsung tertawa melihat kejadian itu.
“Rafa Rafa lo jadi orang kok malu maluin banget si, baru juga masuk sekolah udah bikin ulah dan tadi salah ngajak kenalan ternyata” canda seorang teman sd Rafa, yoga yang meledeknya sambil tertawa.
sial sial kenapa mereka sampe pada tahu kejadian ini si. Arrrggghhhh” keluh Rafa dalam hati.
“va..” Rafa panggil Nava dengan tatapan yang menyedihkan.
“iya kenapa?” jawab Nava.
“jadi kita ga sekelompok?” tanya Rafa.
Nava hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Tak tau kenapa disaat seperti bukan rasa marah Rafa yang timbul tapi ada satu perasaan aneh yang entah tiba tiba muncul begitu saja tanpa permisi. Perasaan yang belum pernah Rafa alami sebelumnya. Perasaan yang bikin Rafa terus menatap setiap gerak tubuh Nava. Perasaan yang tak berwarna. Bukan, bukan tak berwarna tapi Rafa belum mengenal warna itu. Warna baru yang tergores dikanvas hidup Rafa yang masih kosong.  Rafa melihat keanggunan Nava saat itu.
“kenapa lo ga ngomong aja va? Biar gua ga diketawain sama temen temen gua kan” lanjut Rafa lagi dengan sewot.
“heheheh...” Nava tertawa kecil sambil menjulurkan lidahnya ke Rafa. Kemudian dia berjalan mengikuti instruksi yang diberikan oleh kakak korlap di depan. Nava pergi semakin jauh dan menghilang ditelan tangga di pojok sekolah.
Rafa terpaku melihat Nava yang pergi. Rafa tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Semuanya dibuat beda oleh Nava. Gadis itu seperti punya hal-hal magis mulai dari tatapannya, dari tiap senyum yang terbentuk di bibirnya, hingga dari setiap gerakan jemari lentiknya. Rafa tersihir oleh keindahan yang dimiliki oleh Nava.
.......
Rafa membuka mata dan menengok ke arah wanita terbaik yang pernah Rafa kenal selama ini. Rafa pandangi tiap detail lekuk wajahnya. Rambutnya yang bergelombang hitam alami, alisnya yang melengkung seindah pelangi, matanya yang bulat seperti bola pingpong, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang tipis semuanya bersatu menjadi suatu kecantikan yang luar biasa.

Nava, iya Nava adalah bidadari nyata yang pernah Rafa lihat, Rafa sentuh, dan Rafa cintai diam-diam selama hidupnya. Nava yang selalu ada di samping Rafa untuk membuat semuanya menjadi semakin mudah disaat hidupnya terasa semakin berat. Nava yang selalu berbisik di dalam setiap malam untuk mengucapkan selamat malam untuknya. Nava yang selalu ceria disaat Rafa butuh bahagia. Dan hanya Nava yang selalu ada di pikiran Rafa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar